Jumat, 20 Agustus 2010

hukum bacaan/tafkhim dan tarqiq

Tafkhim & Tarqiq
Dilihat dari segi tafkhim (tebal) dan tarqiq (tipis)-nya huruf hijaiyah terbagi 3: Pertama: Huruf-huruf yang selalu dibaca tebal, yaitu huruf-huruf isti’la (huruf-huruf yang terjadi dengan menaikkan sebagian besar lidah sewaktu menuturkannya). Kedua: Huruf yang terkadang dibaca tebal, terkadang dibaca tipis, sesuai posisi huruf dalam ayat, yaitu (alif-lam pada lafal Allah, ra).
Ketiga: Huruf-huruf yang selalu dibaca tipis, yaitu huruf-huruf istifal (huruf-huruf yang terjadi dengan menurunkan sebagian besar lidah sewaktu menuturkannya), selain dari huruf lam dan ra. 
Tafkhim
Menurut bahasa, berarti menebalkan atau menggemukkan.
Menurut istilah tajwid, gambaran tentang tebalnya bunyi huruf, seakan-akan bunyi tersebut bagaikan memenuhi semua rongga mulut.
Hurufnya ada 7, yaitu yang tergabung dalam kalimat: Tafkhim & Tarqiq: Tafkhim.  
Tafkhim: Tingkatan Pertama
Jika huruf tafkhim berbaris fathah bertemu dengan huruf alif.
Contoh: Tafkhim: Tingkatan Pertama.
 
Tafkhim: Tingkatan Kedua
Jika huruf tafkhim berbaris fathah tidak bertemu dengan huruf alif.
Contoh: Tafkhim: Tingkatan Kedua.
 
Tafkhim: Tingkatan Ketiga
Jika huruf tafkhim berbaris dhammah. Contoh: Tafkhim: Tingkatan Ketiga.
 
Tafkhim: Tingkatan Keempat
Jika huruf tafkhim itu sukun. Contoh: Tafkhim: Tingkatan Keempat
 
Tafkhim: Tingkatan Kelima
Jika huruf tafkhim itu berbaris kasrah. Contoh: Tafkhim: Tingkatan Kelima.
 
Tafkhim atau Tarqiq: Lihat Konteksnya
Huruf-huruf yang terkadang dibaca tarqiq dan terkadang dibaca tafkhim, melihat kondisi hurufnya.
Hurufnya ada 3, yaitu pengecualian dari kelompok huruf istifal, masing-masing: alif-lam pada lafal Allah dan ra. 
Lihat Konteksnya: Tafkhim huruf alif-lam pada lafal Allah dan ra.
Pertama: alif pada lafal Allah, dibaca tafkhim jika terdapat setelah huruf tafkhim yang lain, seperti: Lihat Konteksnya: Tafkhim.
Kedua: lam pada lafal Allah, dibaca tafkhim jika terdapat setelah huruf yang berbaris fathah dan dhammah atau terdapat di permulaan kata.
Contoh: Lihat Konteksnya: Tafkhim 2, Lihat Konteksnya: Tafkhim 3 dan Lihat Konteksnya: Tafkhim 4.
Ketiga: ra, dibaca tafkhim pada 3 kasus, yaitu:
  • Pertama: Jika ra itu berbaris fathah, baik terletak di awal, di tengah-tengah atau di akhir kata (dengan syarat dalam keadaan washal).
    Contoh: Lihat Konteksnya: Tafkhim 5.
  • Kedua: Jika ra itu berbaris dhammah. Contoh: Lihat Konteksnya: Tafkhim 6.
  • Ketiga: Jika ra itu sukun dan huruf yang sebelumnya berbaris fathah, dhammah atau kasrah (asli) dan sesudahnya terdapat huruf isti'la', atau huruf sebelumnya berbaris kasrah (bukan asli, akan tetapi karena sebab lain.
    Contoh: Lihat Konteksnya: Tafkhim 7.
  Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik.
Ra boleh dibaca tafkhim dan boleh tarqiq, akan tetapi tarqiq lebih baik jika terjadi pada 3 hal:
Pertama: Jika ra itu sukun ketika wakaf dan sesudahnya terdapat huruf ya yang terpaksa dibuang untuk meringankan bacaan. Contoh, kata: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik dalam firman Allah swt. Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 2 (asalnya: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 3).
Dalam hal ini ya terpaksa dibuang untuk meringankan bacaan.
Kedua: Jika ra itu sukun, terdapat sesudah huruf yang berbaris kasrah (ketika wakaf) dan di antara keduanya ada huruf isti'la'. Kasus seperti ini di dalam Al-Qur’an hanya terdapat pada satu tempat saja, yaitu kata: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 4 pada ayat: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 5.
Bagi yang membaca tarqiq beralasan karena di washal, sedangkan yang membaca tafkhim beralasan karena melihat pada sukun yang terjadi karena sebab tertentu (wakaf).
Ketiga: Jika ra itu sukun, huruf sebelumnya berbaris kasrah dan sesudahnya terdapat huruf isti'la' yang berbaris kasrah. Kasus seperti ini di dalam Al-Qur'an hanya terdapat satu saja, yaitu kata: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 6 pada ayat: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 7.
Bagi yang membaca tarqiq beralasan karena melihat kepada kasrah yang terdapat sebelumnya, tidak melihat kepada huruf isti'la' yang datang setelahnya, karena berbaris kasrah. Sedangkan bagi yang membaca tafkhim beralasan karena melihat kepada huruf isti'la' yang datang setelah huruf ra itu, tidak melihat kepada kasrah yang terdapat sebelumnya juga tidak melihat kepada huruf isti'la' yang berbaris kasrah.
Lihat Konteksnya: Tarqiq huruf alif-lam pada lafal Allah dan ra.
Pertama: alif pada lafal Allah, dibaca tarqiq jika terdapat setelah huruf tarqiq yang lain, seperti: Lihat Konteksnya: Tarqiq.
Kedua: lam pada lafal Allah, dibaca tarqiq jika terdapat setelah huruf yang berbaris kasrah, baik huruf tersebut bersambung dengan lam tersebut dalam satu kata atau pada kata yang lain. Contoh: Lihat Konteksnya: Tarqiq 2, Lihat Konteksnya: Tarqiq 3.
Ketiga: ra, dibaca tarqiq pada 3 kasus, yaitu:
    • Pertama: Jika ra itu berbaris itu berbaris kasrah. Contoh: Lihat Konteksnya: Tarqiq 4.
    • Kedua: Jika ra itu sukun huruf sebelumnya berbaris kasrah (asli) dan tidak ada huruf isti’la sesudahnya. Contoh: Lihat Konteksnya: Tarqiq 5.
    • Ketiga: Jika ra itu sukun (karena wakaf) dan terdapat setelah huruf ya mad atau ya layin. Contoh: Lihat Konteksnya: Tafkhim Lebih Baik.
      Ra boleh dibaca tafkhim dan boleh tarqiq, akan tetapi tafkhim lebih baik jika terjadi pada 2 hal:
      Pertama: Jika ra itu sukun (ketika wakaf) dan huruf sebelumnya berbaris fathah atau dhammah. Contoh: Lihat Konteksnya: Tafkhim Lebih Baik, Lihat Konteksnya: Tafkhim Lebih Baik 2.
      Kedua: Jika ra itu sukun (ketika wakaf), huruf sebelumnya sukun juga dan didahului oleh huruf yang berbaris fathah atau dhammah (yang kalau di washal berbaris kasrah). Contoh: Lihat Konteksnya: Tafkhim Lebih Baik 3.
      Catatan: Bagi yang membaca tarqiq dapat beralasan karena adanya kasrah yang terdapat sebelumnya, tidak melihat kepada huruf isti'la' yang terdapat sesudahnya. Sedangkan alasan orang yang membaca tafkhim adalah karena melihat kepada sukun yang terjadi karena sebab tertentu dan tidak melihat keadaannya ketika di washal. Lihat Konteksnya: Tarqiq 6 dan Lihat Konteksnya: Tarqiq 7
       
    • Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik.
      Ra boleh dibaca tafkhim dan boleh tarqiq, akan tetapi tarqiq lebih baik jika terjadi pada 3 hal:
      Pertama: Jika ra itu sukun ketika wakaf dan sesudahnya terdapat huruf ya yang terpaksa dibuang untuk meringankan bacaan. Contoh, kata: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik dalam firman Allah swt. Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 2 (asalnya: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 3).
      Dalam hal ini ya terpaksa dibuang untuk meringankan bacaan.
      Kedua: Jika ra itu sukun, terdapat sesudah huruf yang berbaris kasrah (ketika wakaf) dan di antara keduanya ada huruf isti'la'. Kasus seperti ini di dalam Al-Qur’an hanya terdapat pada satu tempat saja, yaitu kata: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 4 pada ayat: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 5.
      Bagi yang membaca tarqiq beralasan karena di washal, sedangkan yang membaca tafkhim beralasan karena melihat pada sukun yang terjadi karena sebab tertentu (wakaf).
      Ketiga: Jika ra itu sukun, huruf sebelumnya berbaris kasrah dan sesudahnya terdapat huruf isti'la' yang berbaris kasrah. Kasus seperti ini di dalam Al-Qur'an hanya terdapat satu saja, yaitu kata: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 6 pada ayat: Lihat Konteksnya: Tarqiq Lebih Baik 7.
      Bagi yang membaca tarqiq beralasan karena melihat kepada kasrah yang terdapat sebelumnya, tidak melihat kepada huruf isti'la' yang datang setelahnya, karena berbaris kasrah. Sedangkan bagi yang membaca tafkhim beralasan karena melihat kepada huruf isti'la' yang datang setelah huruf ra itu, tidak melihat kepada kasrah yang terdapat sebelumnya juga tidak melihat kepada huruf isti'la' yang berbaris kasrah. 
    • Lihat Konteksnya: Imalah.
      Hukum imalah (condong) hanya khusus bagi huruf ra saja, dimana ra dibaca tarqiq, karena baris fathah condong ke baris kasrah dan huruf alif condong ke huruf ya. Kasus seperti ini di dalam Al-Qur’an hanya ada satu saja, yaitu kata: Lihat Konteksnya: Imalah.
Tarqiq
Menurut bahasa, berarti menipiskan.
Menurut istilah tajwid, gambaran dari perubahan yang terjadi pada bunyi huruf, yang mengakibatkan bunyi tersebut tidak memenuhi mulut.
Huruf tarqiq adalah semua huruf hijaiyah selain huruf tafkhim Tafkhim & Tarqiq: Tarqiq dan huruf-huruf yang dibaca tafkhim atau tarqiq sesuai kondisi (alif, lam pada lafal Allah dan ra). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar